Berdamai dengan Perpisahan

IMG_20170401_160829

Dari semenjak kita menginjakkan kaki pertama kali di bumi hingga detik ini, mungkin sudah tidak terhitung berapa ribu orang yang pernah hadir di dalam hidup kita. Ada yang hanya sekedar lewat, berhenti sebentar, bahkan berhenti sampai puluhan tahun. Sedihnya, tak ada satupun dari mereka yang benar-benar berhenti. Alasannya bermacam-macam, ada yang harus pergi karena harus menuntut ilmu ke negeri seberang dan tidak tau kapan bisa silaturrahim lagi, ada juga yang dengan senyum malu-malu mengabarkan pernikahan sehingga tidak tau kapan bisa berjumpa kembali, atau ada pula karena alasan klasik seperti diam-diam pergi karena memliki perbedaan ideologi. Ah apapun bentuk perpisahan, tetap selalu menyisakan kesesakan sehingga kita memang harus selalu siap dengan jiwa yang lapang.

Hidup ini memang bukan selalu tentang kebersamaan. Semua akan berujung pada titik dimana ada yang meninggalkan atau ditinggalkan. Sesuatu yang sangat wajar, bukan?. Hal yang menjadi penting kemudian adalah bukan seberapa besar rasa sedih yang kita alami tapi bagaimana hati kita mampu menyikapinya. Mau menangis tiga hari tiga malam berlarut-larut hingga banyak kewajiban yang terabaikan atau memilih segera bangkit dari nestapa lalu tersenyum lebar seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Sungguh itu semua pilihan. Sebagaimana pilihan, tentu hati kita punya hak kontrol untuk mengatur segala jenis emosi tadi.

Selain sikap, ada faktor lain yang berpengaruh pada pudarnya rasa sesak yaitu makhluk bernama waktu. Deret masa acap kali menajdi obat mujarab untuk menyembuhkan segala pilu yang mungkin masih menggerogoti dada. Kadang waktu selalu menjadi alasan paling baik untuk mengembalikan rasa ke wujud semula. Walau mungkin masih ada beberapa orang yang mengatakan “time really cannot heal”.

Anehnya, seberapa menarik pun kenangan masa lalu bagiku, pasti selalu akan berakhir pada kesedihan. Manakala masih berada dalam kondisi ini, barangkali opsi pertama tentang bagaimana menyikapi kesedihan masih menjadi pilihan. Karena bukan tidak mungkin otak ini kembali berputar pada kenangan masa lalu, dimana hampir tiap detik ada hati yang berjuang keras membunuhnya.

—————————————————————————————————————–

Kehadiran seseorang tidak pernah terlepas dari dua hal, kalau tidak memberikan manfaat, berarti mempersembahkan pelajaran hidup.

Bogor, 1 April 2017

Tips Menentukan Lembaga Kursus di Pare

IMG_20161103_104211

Pernah mendengar nama atau istilah Kampung Inggris? Yep, Kampung Inggris adalah sebuah kampung yang terletak di Pare, sekitar radius 30 KM dari Kota Kediri. Kampung ini sering menjadi tempat berlabuh bagi orang-orang yang berniat mendalami Bahasa Inggris, entah sebagai persyaratan apply beasiswa, kerja, dsb.

Saya selaku makhluk yang pernah bertapa disana, membuat saya tergerak  untuk sekedar berbagi tips bagaimana caranya memilih lembaga kursus di sana (walau saya tidak pernah tahu akan ada yang sudi membaca tulisan ini :D). No big deal just 6 tips :). Mencari lembaga kursus di Kampung Inggris, memang rada-rada membingungkan karena data terakhir menunjukkan bahwa ada sekitar 150 tempat kursus  yang berdiri di Kampung ini. Tapi insyaAllah tidak sebingung ketika akan mencari pasangan hidup kok 😀 Asal kita sudah tau tips-tipsnya apa saja yang perlu diperhatikan sebelum menentukan lembaga kursus, agar waktu berhargamu dan biaya yang kamu keluarkan selama di Pare tidak terbuang sia-sia.  Nah buat kamu yang belum pernah ke kampung Inggris, mungkin tips ini bisa membantumu.

  1. Niat yang baik

    Niat adalah pilar utama saat mau melakukan suatu apapun. Jadi niatnya harus benar dan dijaga karena niat jualah yang nanti akan sangat berdampak pada kesungguhan kita dalam belajar. Jadi harus memfokuskan niat semurni-murninya. Selebihnya bisa untuk refreshing.  Deal ? Lanjuut…

  2. Goal yang ingin didapat
    Kamu juga perlu memperhatikan tujuan dari belajar kamu nanti akan digunakan untuk apa? Untuk lolos job interview kah, jago speaking, test TOEFL, test IELTS dll karena setiap kursusan memiliki program andalannya masing-masing.
  3. Berapa waktu yang kamu miliki
    Kenapa waktu menjadi penting karena kamu pasti memiliki waktu yang terbatas, bukan? sehingga di Kampung Inggris ini setiap lembaga kursus menawarkan durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang menawarkan paket 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, bahkan 1 tahun. Nah durasi waktu ini juga berpengaruh pada biaya yang kamu keluarkan. Karena semakin panjang durasi dari paket program yang kamu ambli, maka semakin banyak juga budget yang dikeluarkan. Tapi bagi kamu yang budgetnya melimpah ruah, tentu soal budget tak  akan jadi masalah.
  4. Browsing
    Di era internet seperti sekarang ini segala akses sangat mudah, sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan informasi yang kamu butuhkan. Kamu bisa searching “tempat kursus favorit di kampung inggris” kemudian lihat kolom komentar (testimony), biasanya bisa menambah keyakinan dalam mengambil keputusan. Di beberapa lembaga yang muncul itu, kamu bisa membandingkan antar lembaga dari setiap program yang ditawarkan, juga sekaligus bisa membandingkan fasilitas yang diberikan sampai harga kursus yang ditawarkan. Hehe. Atau bisa juga bertanya pada teman yang sedang atau pernah belajar disana. Biasanya mereka yang sudah pernah belajar mengetahui kursus yang highly recommended. Tapi saran saya, ubrek-ubrek saja dulu websitenya, baru kemudian bertanya pada teman untuk sekedar memantapkan hati.
  5. Menentukan Tempat Tinggal
    Tempat tinggal di Kampung Inggris ini ada dua macam yaitu berupa camp (sejenis asrama) dan kosan. Perbedaan dari keduanya terletak pada program di dalamnya. Kalau di camp, biasanya ada program tambahan di malam hari dan di pagi hari. Programnya bermacam-macam, ada program yang mengimprove listening, reading, dan biasanya wajib menggunakan Bahasa Inggris selama di dalam Camp. Sementara kalau di kosan, biasanya free program alias tidak ada program. Kalau camp ini biayanya sudah sepaket dengan program kursus yang diambil, jadi kita tidak usah repot-repot mencari tempat tinggal selama belajar disana. Berbeda dengan kosan dimana kita harus mencari sendiri dan bayarnya pun juga terpisah dari program kursus yang diambil.
  6. Fokus belajar
    Tidak sedikit cerita tutor yang sudah lama disana bahwa banyak anak kursusan yang sudah menghabisan banyak waktu di Pare tapi tidak ada peningkatan signifikan dalam kemampuan Bahasa Inggrisnya. Faktornya apa? Bisa jadi faktor tempat tinggal yang tidak kondusif, faktor teman, faktor tutor yang dirasa kurang nyaman dalam penyampaiannya, etc., namun terlepas dari semua itu sebenarnya yang paling berpengaruh adalah faktor dari dalam diri kita sendiri yaitu faktor kesungguhan dalam belajar. Setuju?

Sedikit cerita pengalaman di sana, sebenarnya tidak semua penduduk asli Pare bisa berbahasa inggris. Rata-rata mereka menggunakan Bahasa Indonesia saat berinteraksi dengan pendatang. Nah kalau studentnya sendiri sangat sering saya temukan cas cis cus bercakap pake Bahasa Inggris di jalan. Oleh karena itu, belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris memang sangat kondusif 😀 terlebih saat berada di dalam Camp. Di tempat camp saya dulu, kami diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris di setiap “napas” yang keluar :D. Mulai dari berinteraksi dengan teman sekamar, selorong, sampai musik yang distel pun juga harus yang berbahasa Inggris. Gila gak tuh? awalnya sih iya, tapi lama kelamaan biasa saja.

Namun semahir apapun kemampuan Bahasa inggris yang didapat dari sana, tetaplah harus selalu diasah saat kembali pulang apalagi jika tidak langsung dipraktikkan di luar negeri.  Intinya memang perlu dibiasakan ngomong pake Bahasa Inggris, baca tulisan yang berbahasa Inggris, Nulis opini pake Bahasa Inggris sampai nonton video atau berita pun yang berbahasa Inggris.  That’s right, alah bisa karena biasa.

Well, mungkin itu saja tips dari saya. Semoga bermanfaat.

Bogor, 26 Maret 2017

Momen Wisuda

DSC_7365.JPGKalau ditanya momen apa yang paling membahagiakan dari wisuda, maka aku akan jawab, momen kebersamaan dengan keluarga, baru setelah itu momen wisudanya. hehe..

Oke, tulisan ini, aku buat untuk mengenang tepat 1 tahun lalu aku bersama keluarga melakukan perjalanan ke Bogor demi menghadiri wisudaku. Bagi keluragaku, momen wisuda adalah momen yang paling membahagiakan mungkin karena aku satu-satunya orang dalam keluarga yang lanjut sampai sarjana. Yep, I am  the first and last generation in my family yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Jadi kerasa lah ya bagaimana pundak ini harus kuat untuk minimal membuat ukiran senyum di bibir mereka *eaaak

21 Maret 2016

Jika tidak ada momen spesial di tanggal ini dan 4 hari sesudahnya, maka tanggal ini hanyalah kombinasi antara huruf dan angka saja. Simpelnya, aktifitasku tidak jauh seperti hari-hari biasanya. Berangkat kerja jam 9.30 WIB dan pulang 17.30 WIB. Tapi di tanggal ini, aku dan keluargaku harus ke Bogor, sementara tubuhku masih terasa amat lemas karena tifus.

Aku tiba Stasiun Pasar Turi (Surabaya) sekitar jam 9 an. Aku tak ingat betul jam berapa saat itu. Begitu sampai di ruang tunggu, aku melempar pandangan kesana-kemari mencari-cari keluargaku yang sedari 3 jam yang lalu menungguku. Keringat dingin mulai bercucuran di dahiku. Aku merasa tubuhku sangat lemas.

“Kak Ahmad, saya sudah tiba di Stasiun Pasar Turi, sampeyan di sebelah mana ya?” Tanyaku via telpon

“Aku sudah di dalam ruang tunggu” jawab kakakku agak tergesa-gesa. Kurang lebih 1 menit kakkakku sudah menepuk pundakku. Kemudian aku duduk di ruang tunggu. Kata kakakku saat itu, mukaku pucat pasi. Tapi entah kenapa melihat mbak-mbak dan kakak-kakakku, rasa demamku serasa hilang, seakan lupa kalau aku sedang sakit. Tapi saat melihat keponakanku yang bandelnya minta ampun, disuruh duduk malah manjat-manjat pagar pembatas ruang tunggu, rasanya aku pengin pingsan saja :v

Tiba di dalam kereta, aku langsung makan. Porsi makanku masih sama dengan saat di kosan. Selama sakit tifus, tidak pernah habis satu porsi. Aku diledikin sama kakakku karena yang punya acara malah sakit. Di sepanjang perjalanan aku habiskan untuk tidur. Berharap sampai di Bogor, tifusku sembuh. Namun qodarallah, demam tinggi masih tetap terasa.

22 Maret 2016

Tepat jam 8.14 WIB, kami sekeluarga sudah tiba di Jakarta dengan selamat sentosa. Aku langsung beli makan karena harus segera minum pil. Entah kenapa selama sakit tifus, rutinitas paling menyebalkan adalah ketika saatnya minum ramuan kimia itu. Aku harus sesabar mungkin memasukkan pil ke mulutku yang mencium baunya saja, rasanya pengin muntah.

Jam 10.00 WIB, kami sudah berada di kereta menuju Bogor. Sesekali aku perhatikan kepoanakan-keponakanku yang tampak excited banget menaiki KRL JABODETABEK itu. Wajar sih, ini kali pertama bagi mereka naik Commuter Line. Sementara pikiranku berjalan-jalan sendirian. Berpikir gimana caranya sampai di Bogor sebelum jam 13.00 WIB, karena tepat jam 13.00 WIB, aku sudah harus berada di GWW (Graha Widya Wisuda) untuk mengikuti acara Gladi Resik wisuda. Akhirnya, dengan mobil carteran, alhamdulillah tiba di Dramaga (Sebuah kacamatan di Bogor) jam 12.08 WIB, sehingga masih sangat memungkinkan bagiku untuk sholat terlebih dahulu lalu berangkat ke GWW.

Di Bogor, keponakanku yang satu kampus denganku sudah menyiapkan semuanya, termasuk penginapan sampai kamera yang akan digunakan di hari wisudaku. Aku hanya tinggal nerima jadi. Aaaah Maafkan aku selalu merepotkanmu. Semoga Allah selalu menjagamu ya nduk 🙂

lanjut, setelah membeli sebotol susu murni dan sepotong roti, aku berjalan setengah berlari menuju GWW sebab waktu sudah menunjukkan 12.46 WIB. Begitu tiba di dalam GWW, alhamdulillah mestakung (semesta mendukung) bekerja dalam tubuhku. Aku sama sekali tidak merasakan sakit kepala dan demam layaknya penderita tifus, hanya beberapa kali batuk yang menyertai selama proses gladi resik berlangsung.

Namun rasa demam kembali kambuh saat gladi resik usai. Sehingga ada momen yang sengaja dilewatkan yaitu pembagian kartu alumni IPB. Aku sudah meriang dan tidak kuat untuk mengantri. Akhirnya aku memilih untuk pulang ke kosan dengan perasaan agak sedikit menyesal karena belum bisa mendapatkan kartu alumni.

23 Maret 2016

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Yaitu hari wisuda. Mungkin ini hari terindah bagi mayoritas makhluk bernama mahasiswa untuk menyempurnakan kesarjanaannya. Namun tidak begitu denganku, aku justru kuatir. Kuatir masuk koran kampus :D. Aku takut saat aku naik ke podium untuk dipindahin tali toga oleh Pak Rektor terus tiba-tiba tifusku kambuh dan pingsan di tengah banyak orang. Sungguh jika ini terjadi, tak akan ada satupun orang yang akan menganggap ini kejadian yang lucu. Namun Alhamdulillah prosesi wisuda berjalan lancar. Namun masalah muncul saat aku keluar dari GWW. Aku dan kakakku (Kakak yang menjadi perwakilan orang tua selama prosesi wisuda berlangsung) agak lama untuk ketemu dengan keluargaku yang lainnya. Sampai kurang lebih 20 Menit baru kami bertemu. Ini salah satu kekeliruanku tidak memberikan instruksi yang jelas terkait tempat ketemuan setelah acara wisuda selesai.

Setelah bertemu dengan keluargaku, akhirnya kami menghibur diri kami dengan berfoto-foto. Juga dilanjutkan dengan foto bersama dengan teman-teman Al-Fattah (tempat aku ngajar dulu), adik-adik fakultas, teman-teman departemen, dan foto bersama dosen jurusan. Oiya ada juga teman organisasi yang hanya ngasih hadiah tapi gak sempat foto bareng. Momen kebersamaan di foto itu memang berakhir sebagai koleksi pribadi saya, karena rasa bahagia memiliki dosen-dosen dan teman-teman seperti kalian tidak cukup hanya mengapload sebuah foto kebersaman di media sosial. hehe.

Terimakasih untuk rekan-rekan yang telah menyempatkan datang, terimakasih untuk bunga-bunganya yang cantik, coklatnya yang lezat serta kado-kadonya yang unik-unik, terimakasih yang sudah memberikan ucapan selamat walau raga tak sempat bersua, hehe. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan untuk semua aktifitas kita. Aamiin

24 dan 25 Maret 2016

Di dua tanggal ini, aku berencana mengajak  keluargaku jalan-jalan mengelingi Bogor dan satu tempat wisata di Jakarta.  Namun, aku dan keluarga hanya bisa berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Itu pun tak semua spot bisa kami kunjungi karena rasa demamku masih sangat terasa ditambah juga mbak iparku yang juga merasa demam sehingga tidak bisa berlama-lama di dalam kebun itu. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Perasaan sedih pasti ada. Aku merasa belum bisa memberikan pelayanan terbaik buat tamu-tamu spesialku ini, but I firmly believe that Allah is the best planner. Rundown acara selama di Bogor, sudah aku tulis lengkap di waktu jeda kerja di Surabaya. Tapi apa boleh buat, manusia hanya bisa berencana, Allahlah yang maha tahu mana yang terbaik.

Teruntuk keluargaku tercinta, semoga kita bisa berkumpul lagi di rencana Allah yang selalu indah.

Bogor, 24 Maret 2017

Cerita Absurd

Salah satu pelajaran berharga yang bisa aku ambil selama dua bulan bertapa di Kampus Inggris Pare, yaitu jangan memberikan nama pada anak kita hanya dengan satu buah kata. Eh bentar, ngomong-ngomong elo selama kursus di Pare, hanya cerita doang yang nyantol di kepala lo Bi? :v

Oke lanjut, cerita yang bukan drama ini bermula dari pertama kali aku masuk kelas ielts jam 5 pagi. Tiba di koridor kelas, aku dan dua temenku kebingungan karena tidak tahu kelasnya dimana. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu sambil melihat-lihat siswa yang barangkali satu kelas dengan kami. Saat menunggu, tetiba terdengar namaku dipanggil. Agak pelan, tapi cukup jelas di telinga. Merasa namaku dipanggil, aku berteriak kegirangan dan langsung menunjuk kelas dimana sumber suara berasal. Keyakinanku diperkuat saat melihat dari kaca jendela beberapa temen camp yang aku kenal. Begitu Daun pintu ku buka separuhnya, aku bilang “Maaf, kami terlambat, bolehkah kami bergabung di kelas ini?”. Begitu kami dipersilahkan masuk, kami langsung mengambil meja belajar yang ditumpuk rapi di pinggir ruangan. Sialnya, tempat duduk yang kosong hanya tinggal di sebelah mentornya. Dan itu posisi duduknya di depan banget.

Kami diminta memperkenalkan diri dengan format : nama lengkap, asal, lulusan, dan jurusan. Tiba giliranku, walau dengan napas yang masih tersengal, ku sapa mereka “okay, hai semua, saya Sabihah dari Pamekasan, Madur…” Perkenalanku sempet teralihkan oleh ekspresi para laki-laki yang hampir serempak bilang “Oh ini yang namanya Sabihah”. Karena aku tak tau apa maksudnya, aku terus saja melanjutkan hingga perkenalanku selesai.

“Oo.. ternyata kamu perempuan ya Sabihah” Sang mentor menatapku seakan ingin meyakinkan dirinya bahwa aku memang benar-benar perempuan. Alamak,, sadis ! saat itu aku merasa akulah makhluk paling nista di muka bumi ini. Bayangin coba, udah jelas-jelas pake gamis dan pake jilbab lebar masih disanksikan jenis kelaminnya. Akhirnya aku hanya bisa masang ekspresi wajah *maksud lo* 😦

Kemudian mentorku mengecheck ulang absensi yang dipegangnya, lalu dia bilang “Sorry Sabihah, namamu berada di deretan daftar nama laki-laki bukan di daftar nama perempuan”. Jegger,,,, semua isi kelas tertawa. Termasuk aku, tapi bedanya aku ketawa kecut. Lebih tepatnya ketawa meringis. Baru aku tahu, kalo namaku masuk list nama cowok bukan nama cewek. Dan yang lebih menggelikan lagi, absensi yang ada di kelas sama dengan absensi yang ada di tiap camp. Ini artinya, saat penentuan camp, namaku dimasukkan ke daftar nama camp laki-laki. Satu misteri terpecahkan, kenapa kaum adam di kelasku tadi pada pelongo saat aku memperkenalkan diri.

Ketika semua menertawakanku, ketika itu pula, aku mengetahui bagaimana rasanya pergi ke kondangan dan begitu tiba di tempat, ada tamu undangan lain yang ga kita kenal menggunakan pakaian yang sama dengan yang kita kenakan. Yup, rasanya pengen pulang saja 😀

Jadi, buat kamu yang sedang buang-buang waktu hanya buat membaca kisahku yang absurd ini :D, aku hanya ingin menyarankan kalo kamu punya anak nanti, sebaiknya kasih nama dia yang jelas identitas perempuan atau laki-lakinya dan berilah dia nama lebih dari satu kata. Karena kadang menebak jenis kelamin hanya pada satu kata nama, seringkali membuat orang tidak berpikir dua kali 😀

Bogor, 24 Februari 2017

Ibu dan Anak Nomaden

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih hubungannya Ibu dan anak nomaden? Apa seperti hubungan langit dan bumi yang tak pernah bertemu ? atau seperti hubungan aku dan beasiswa yang belum jelas endingnya bagaimana? Baiklah, akan kucoba diurai dari sisi anak nomadennya dulu.

Sejatinya hidup ini adalah perpindahan. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Menjalani takdir satu ke takdir yang lainnya. Maka yang perlu diperhatikan adalah mempersiapkan setiap perlengkapan yang akan dibawa dalam perjalanan, agar selalu nyaman saat di perjalanan dan di tempat singgah kita nanti. Misalnya mempersiapkan tiket perjalanan, membawa mukena, membawa beberapa obat-obatan, alat bersih-bersih, dll.

Setiap orang punya tujuan hidup masing-masing, sehingga perpindahan adalah suatu keniscayaan. Sangat tidak mungkin rasanya ingin mencapai tujuan hidup, tapi raga masih diam di tempat. Sangat tidak mungkin rasanya meinginginkan sebuah mangga, tapi enggan memetiknya atau malas membelinya. Sebab ingin saja tidak cukup. Harus ada effort.

Perjalanan selalu menawarkan hikmah di dalamnya. Bertemu dengan orang-orang baru, budaya baru dan lingkungan baru. Sungguh ini pelajaran hidup yang sangat menarik. Namun sekali lagi, tergantung pada diri masing-masing. Mau mengambil pelajaran dari perjalanan hidup itu atau cuek tak peduli. Dan membiarkan makna perjalanan hanya sekedar media menuju tempat singgah.

Ibu, ibu adalah sosok wanita lembut yang paling super khawatir saat anak-anaknya dalam perjalanan. Beliau orang pertama yang akan menunggu anaknya di serambi rumah saat anaknya pulang sekolah melewati jam dari biasanya. Apalagi saat anaknya melakukan perjalanan seorang diri, katakanlah perjalanan antar pulau. Si anak, kadang merasa lebih khawatir terhadap perasaan khawatir beliau dari pada perjalanan itu sendiri. Mungkin ini kali ya yang disebut memiliki ikatan batin yang kuat.

Ketika ibunya cemas akan keselamatan anaknya, maka anaknya justru cemas pada ibu yang tengah mengkhawatirkannya. Namun sebenarnya kecemasan ibu semata-mata bukan dari jaraknya yang jauh atau dekatnya. Pergi sebentar saja, beliau pasti sudah khawatir. Ah kita memang tak akan pernah bisa benar-benar merasakan bagaimana cemasnya seorang ibu, sebelum kita sendiri jadi ibu untuk anak-anak kita. Teori tidak benar-benar merefleksikan dari praktik sebenarnya, bukan?.

Saat dihadapkan pada dua situasi ini. Memilih tinggal di rumah atau berlari melakukan perpindahan itu tentu sebuah pilihan. Dan setiap pilihan, pasti ada satu yang dikorbankan. Selamat memilih dan selamat berjuang.

 

Bogor, 19 Februari 2017

Smartphone

The majority of human life cannot be separated to communicate with others. Smartphone is one of tools to make communication, while there are backwards that caused by using smartphone.

I would argue that the technology advance of smart phone has many benefits for human daily activities because it can support people needs in terms of communication. Smartphone usage not only make communication but also access some information. Furthermore, people are able to utilize that device for entertainment. In addition, people who want to improve their entrepreneur skill have opportunity to sell creative goods by online shop. Beside that, people will be easier to communicate with their relatives. Lastly, students can access some material or tutorial by their smartphone.

In different view, smartphone has downsides than upsides. Some researchers said that mobile phone use continuously can cause brain cancer because ray from smartphone. Several people become idle to meet each other because they just call or send message for saying hello or even informing something. Then, debit of people increase every month because they need more budget to buy internet connection. Next, worst example of smartphone use is for children in particularly. Children easily can access something bad. Those are like pornography, crime, and useless game.

To sum up, I strongly agree that smartphone brings people in several benefits and make people to be closer with others in long distance. But, in different side, it has negative effects in life. So, it should be better if people use smartphone wisely.

-Sabihah-

Is History Nothing or Everything?

History helps us how thing starts and how thing happens. Also, with history, people learn where they are now, but several people especially student fells bored to study about history.

For many people, learning history is bored condition. Some of them recognize that history just for memorizing dates. Furthermore, story is not practical thing. History is unchanged condition and monotone. It is far easier to learn physic subject or math. They can be practiced everyday, but history, it is much more practical for memorizing dates or death people

On the other hand, learning history in reality can be learned by watching movie, listening audio drama, or documentaries that present history. So, there is no bored reason to study history because it has many advantages. For instance, history helps us to find civilization evidence. Story can be found from everything such as writing, coin or from mouth to mouth. After word, people never know genealogy without history because it helps  us from smaller thing to bigger thing. Then, history helps people to see past dream that has not come yet. Likewise history can open mind people how they look at the world from all sorts of perspectives. As well, learning history can avoid past mistake. The last, people can enhance their analysis ability. For example, people know why revolution can happen. Who doer is, how effect does, how effect does, etc.

For the advantages mentioned above, it shows us that history is essential to be learned.

-Sabihah-